Senin, 01 Desember 2008

Jambore Journey

Pengalaman bertahan hidup di gunung puntang

Hari 1, 11 November 2008

Sebelum berangkat ke Gunung Puntang, saya cukup antusias dan tidak sabar untuk segera mengikuti jambore ini, mengingat ini adalah kegiatan jambore kedua saya di SMA setelah 2 tahun lalu saya juga mengikuti jambore sebagai peserta. Saya juga sangat penasaran dengan keadaan disana setelah 2 tahun. Kebetulan mereka sudah pernah ke sana karena 2 tahun lalu kegiatan jambore juga diadakan di tempat yang sama.Saya sangat terkejut sekaligus gembira ketika mengetahui saya tergabung di dalam panitia keamanan bersama rekan-rekan yang relatif menyenangkan dan mau membantu satu sama lain.Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam, saya dan teman-teman pun akhirnya tiba di Gunung Puntang. Ketika sampai si sana saya merasa sangat kagum dengan keindahan alam yang ada di sana. Pohon-pohon yang tumbuh dengan lebat, sisa-sisa bangunan kuno, serta udara yang sangat bersih dan segar, semuanya memberikan keindahan yang tidak bisa kita dapatkan di Jakarta. Perkataan teman-teman selama ini telah saya buktikan sendiri dan saya semakin tidak sabar untuk segera menjalani kegiatan - kegiatan di Gunung Puntang ini. Setibanya di sana, kami mengadakan upacara pembukaan yang di pimpin oleh Pater Sigit, kemudian kami di minta untuk membawa barang – barang kami ke tempat dimana tenda akan dididirikan dan mendirikan tenda tersebut dengan menerapkan pelajaran menyusunan tenda yang sudah disosialisasikan orang panitia perlengkapan di SMA Kanisius. Setelah sampai, saya terkejut karena tenda telah didirikan oleh panitia advance

Hari 2, 12 November 2008

Pada hari yang kedua ini, kami bangun lumayan pagi – pagi. Kami bangun jam 6 pagi. Pada saat hiking, saya menjadi panitia yang menjaga keamanan tenda. Pada malamnya ada acara api unggun.Walaupun malam itu udara sangat dingin menusuk tulang, tapi persahabatan dan keakraban kami berhasil menghangatkan suasana di Gunung Puntang pada malam itu.

Hari 3, 13 November 2008

Keesokkan harinya, kami semua pun harus kembali ke Jakarta. Sebelum pulang, kami diberi tugas untuk membersihkan tempat dimana kami melakukan kegiatan jambore ini. Kami harus memungut sampah sekecil apa pun yang ada di sana. Kemudian kami kembali ke Kanisius sekitar pukul 4.30 sore.

Kevin Adinata

Kamis, 16 Oktober 2008





Kevin Adinata
XIIE/21

Jumat, 26 September 2008

Bahasa Indonesia vs Bahasa Malaysia

Indonesia: Kementerian Hukum dan HAM
Malaysia : Kementerian Tuduh Menuduh

Indonesia : Kementerian Agama
Malaysia : Kementerian Tak Berdosa ( Oh please larrrr... )

Indonesia : Angkatan Darat
Malaysia : Laskar Hentak-Hentak Bumi

Indonesia : Angkatan Udara
Malaysia : Laskar Angin-Angin

Indonesia : Pasukan Bubar Jalan !!
Malaysia : Pasukan Cerai Berai !!

Indonesia : Merayap
Malaysia : Bersetubuh dengan bumi ( ROFL!!! )

Indonesia : Rumah Sakit Bersalin
Malaysia : Hospital korban lelaki ( Bener juga yaaa =p... )

Indonesia : Telepon Selular
Malaysia : Talipo bimbit

Indonesia : Pasukan terjun payung
Malaysia : Aska begayut

Indonesia : belok kiri, belok kanan
Malaysia : pusing kiri, pusing kanan ( stres kale ya )

Indonesia : Departemen pertanian
Malaysia : Departemen cucuk tanam

Indonesia : 6.30 = jam setengah tujuh
Malaysia : 6.30 = jam enam setengah

Indonesia : gratis ngobrol 30 menit
Malaysia : percuma berbual 30 menit

Indonesia : tidak bisa
Malaysia : tidak boleh

Indonesia : WC
Malaysia : Tandas

Indonesia : Satpam
Malaysia : Penunggu Maling

Indonesia : Aduk
Malaysia : Kacau

Indonesia : Diaduk hingga merata
Malaysia : kacaukan tuk datar

Indonesia : 7 putaran
Malaysia : 7 pusingan

Indonesia : Imut-imut
Malaysia : comel benar

Indonesia : Pejabat negara
Malaysia : kaki tangan negara

Indonesia : bertengkar
Malaysia : bertumbuk

Indonesia : pemerkosaan
Malaysia : perogolan

Indonesia : Pencopet
Malaysia : Penyeluk saku

Indonesia : Joystick
Malaysia : Batang senang ( batang ape ye yg buat senang wkwkwkwk )

Indonesia : Tidur siang
Malaysia : Petang telentang

Indonesia : ONANI
Malaysia : Tarik - dorong kelamin ( WAKAKKAKAKAKKAKAK )

Indonesia : Air Hangat
Malaysia : Air suam

Indonesia : Terasi
Malaysia : Belacan

Indonesia : Pengacara
Malaysia : Penguam

Indonesia : remote
Malaysia : kawalan jauh

Indonesia : Kulkas
Malaysia : Peti sejuk

Indonesia : chatting
Malaysia : bilik berbual

Indonesia : Keliling kota
Malaysia : Pusing pusing ke bandar

Indonesia : Tank
Malaysia : Kereta Kebal

Indonesia : bersenang - senang
Malaysia : berseronok

Indonesia : rumah sakit jiwa
Malaysia : gubuk gila

Indonesia : Dokter ahli jiwa
Malaysia : Dokter gila ( ini dokternya yg gila kale ye wkwkkw )

Indonesia : Narkoba
Malaysia : Dadah

Indonesia : Pintu darurat
Malaysia : Pintu kecemasan

Indonesia : Hantu Pocong
Malaysia : Hantu Bungkus ( OK DIBUNGKUS BAWA PULANG MASSSS )

Nama Jepang sesuai jobnya

Samakami Sampepagi : Cewek penghibur di nightclub

Takasi Kamucoba : Sales door to door

Kosewa Rumaku : Pemilik rumah kontrakan

Kitakasi Murasaja : Pemilik toko

Minumi Kabeh : Seorang pemabuk

Itumu Akuraba : Orang gatel, psikopat seks

Yukasi Kitaterima : Kasir

Akusuka Takuti : Preman

Mukamu Sayabedaki : Make-up artist

Sini Takupotongi : Tukang pangkas

Ayodiri Satusatu : Pemimpin upacara

Takada Gaji : Pengangguran

Aigaya Sanasini : Foto model

Kitabuka Kamupoto : Foto model 17++

Kuraba Sakumu : Pencopet

Sayabisa Urusi : Calo

Akubuka Kamumasuki : Penjaga pintu gerbang

Sukabawa Sayuri : Tukang Sayur

Tyada Ruma : Gelandangan

Yukira Kitaawasi : Pengawas pajak

Aisuka Susumu : Penjual bra wanita

Kanji Kitakasi : Tukang jual tepung

Mauna Chiumi : Parfum tester

Kuobati Anumu : Dokter Kelamin

Kusabuni Itunoda : Tukang cuci baju

Satemura Oke : Tukang sate

Disini Adaguchi : Penjual keramik

Masimuda Masutipi : Artis cilik

Nikita Sukanari : Penari

Jumat, 19 September 2008

kau

Lelahku mencari penggantimu... penggantimu...
Tetap kan kembali kepadamu... kepadamu...
Mungkin ini pertanda engkaulah cintaku... cintaku...

Kau...
Tiada yang lain yang pantas untukku
Yang seharusnya ku cinta
Bolehkah lagi kuminta hatimu
Kembali seperti dulu

Bayangmu selalu menggelapkan dihatiku
Hingga ku tak mungkin mengganti yang lain selain diriku
Mungkin ini pertanda seharusnya cintaku... cintaku...

Kuingin kau slalu yang jadi milikku ooh...

Senin, 15 September 2008

That's All

I can only give you love that lasts forever.
And a promise to be near each time you call.
And the only heart I own
For you and you alone
That's all,
That's all...

I can only give you country walks in springtime
And a hand to hold when leaves begin to fall;
And a love whose burning light
Will warm the winter's night
That's all,
That's all.

There are those I am sure who have told you,
They would give you the world for a toy.
All I have are these arms to enfold you,
And a love time can never destroy.

If you're wondering what I'm asking in return, dear,
You'll be glad to know that my demands are small.
Say it's me that you'll adore,
For now and evermore
That's all,
That's all.

If you're wondering what I'm asking in return, dear,
You'll be glad to know that my demands are small.
Say it's me that you'll adore,
For now and evermore.
That's all,
That's all.

Senin, 05 Mei 2008

Pengorbanan

Kira-kira jam 7 pagi, saat aku sedang terlelap dalam tidurku yang nyenyak tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar,” Kevin, Kevin we love you!”. Suara itu seperti suara gadis-gadis yang meneriakan namaku. Yah memang sih, semenjak aku membantu FBI menangkap teroris dunia di Bangkok 6 bulan lalu namaku mulai mencuat di media massa dan karena tampangku yang bagus ini aku banyak ditawari main film dan bintang iklan. Tetapi dibalik semua itu tersimpanlah suatu kenangan pahit yang mendalam. Kehidupanku sebelumnya memang sangat biasa saja, semuanya berawal dari kehidupan sekolahku di suatu sekolah homogen ternama di bilangan kota Jakarta. Saat itu sedang ada libur kenaikan kelas dan aku naik ke kelas XII. Aku mempunyai 2 teman baik, Tadee dan Aarun. Kami pun memutuskan untuk refreshing setelah penat menghadapi ulangan umum. Untuk perkenalan, Tadee Laynero adalah seorang etnis Cina yang mengusung tinggi budaya-budaya Cina. Dia adalah fans berat Jerry Yan dari Meteor Garden. Sedangkan Aruun Kumar adalah seorang keturunan India-Pakistan-Nepal-Indonesia yang berkulit sawo matang adalah seorang yang gemar yoga, dia juga senang sekali dengan film-film actionnya Shah Rukh Khan. Kemudian kita memutuskan untuk berlibur ke negeri Pagoda, yaitu Thailand. Kamipun memperbincangkannya di depan kelas XI-D IPA.

“Wow Ide yang brilian.”, kata Tadee.

“Ide si boleh, duit darimana bos?” sahut Aruun.

“Tenang aja, gw yang bayarin.” Jawabku sambil mengibas-ngibaskan 10 lembar uang 100 ribu rupiah.

“Oke deh bos, gua buking dulu hotel ama tiket pesawat Adem Air.”, kata Aruun.

“Jangan bego, Adem air sering kecelakaan. Mending lu beli tiket Air Asiak. Murah dan bagus, cakep lagi pramugarinya.” Jawab Tadee dengan muka mesum.

“Ya udah gua ga mau tau, lu buking apa aja yang penting bisa terbang. Ruun, lu yang urus deh.” Kataku yang merasa kesal karena tidak sabar.

“Oke deh gue balik dulu, ada jadwal yoga gue.” Kata Aruun.

“gue juga mau karaoke ama ikut chen sing, lu kira lu doing yang sibuk?” balas si Tadee dengan nada yang menyebalkan.

“Yauda balik deh lo pada, pusing gua denger lu ngoceh.” Akupun yang tidak sabar langsung pergi dari depan pintu kelas dan menuju rumah dengan sopir pribadiku yang mengendarai BMW mengkilap.

Sesampainya di rumah aku menanyakan hal ini ke ayahku dan beliau langsung menyetujuinya bila saja liburan tersebut digunakan untuk maksud yang tepat. Jadi aku bilang saja aku ingin mempelajari budaya Thailand

Keesokan harinya aku menanyakan tentang pembukingan tiket pesawat dan tiket hotel kepada Aruun. Aruun bilang bahwa semuanya sudah beres dan kita bertiga makan di restaurant Chinese Food terkemuka di Kemang, yaitu Chen Hau Nan. Aku sangat puas karena kali ini Tadee mentraktir kami. Ucapan terimakasihku ucapkan untuk Tadee. Keesokan harinya kira-kira jam 8 tepat, agak telat karena menurut jadwal kami akan terbang jam 8.45. Tadee menjemputku bersama Aruun dengan mobil Honda Jazz milik ayahnya Tadee. Tadeepun menancap gas hingga 120 km/jam di jalanan sampai akhirnya ditilang polisi. Jam menunjukan pukul 8.23. Aruun terpaksa harus menunjukan kemampuannya sebagai penipu kelas kakap.

“Siang pak, maaf harus saya tilang karena bapak ngelanggar batas kecepatan di daerah ini.” Dengan sopannya polisi buncit itu berbicara (polisi buncit biasa minta “uang damai”).

Aruun pun berkata dengan aksen Indianya yang membuat kita menahan tawa, “Pak, saya tuh anaknya Jendral Sugiono.”

Dengan pintarnya polisi itu menjawab, ”Pak, jangan coba nipu ya. Saya tuh udah sering ditipu begituan dan nama jendral ga ada yang kaya gitu.”

Wah tentu saja Aruun tidak habis akal dan berkata,” Maaf pak, tapi itu bukannya ayah saya Jendral Sugiono datang kesini. Orangnya ada di belakang bapak.”

Polisi itu pun menoleh ke belakang dan tertipu. Aku sempat mengambil gambar polisi itu dari belakang untuk kenang-kenangan. Lalu Tadee menginjak gas sampai pol ke bandara dengan selamat.

Kami langsung check in kapal Asiak air dan menunggu di pintu D4. 3 menit kemudian pintu dibuka dan kami berangkat ke Bangkok, Thailand. Sesampainya disana, tanpa mengetahui apa-apa kami langsung dicegat. Ternyata Tadee membawa air soft gun yang disinyalir adalah senjata asli oleh petugas X-ray di airport Suvarnabhumi. Tadee disangka adalah seorang teroris dari Korea Utara, sedangkan Aruun dituduh sebagai teroris Al- Qaeda. Aku menjadi bingung setengah mati, karena petugas-petugas tersebut mengajak bicara bahasa Nasional mereka. Sebenarnya aku juga disangka sebagai pengedar obat karena membawa painkiller yang berfungsi untuk menahan rasa sakit karena pada malam hari biasanya lutut saya kambuh sakitnya. Akhirnya kami ditransport ke penjara Sukchavit di Bangkok. Aku yang kesal setengah mati menyalahkan Tadee untuk urusan ini. Tetapi Aruun juga menyalahkanku dan Tadee juga menyalahkan Aruun. Karena kami semua membawa barang yang salah.

Akhirnya setelah sampai disana, Aku, Tadee, dan Aruun dijebloskan ke dalam sel yang sama. 315-AZ, takkan kulupakan sel itu. Kecoa dan Tikus sepertinya bersekutu untuk membuat kami tidak betah tinggal di sel tersebut, tetapi apa boleh buat. Aku terus berharap agar para polisi Thailand mengetahui kesalahan mereka.

Hari demi hari pun berlalu.

“Aduh uda 5 hari kita disini. Makin ga betah aja.” Kata Aruun.

“Woi goblok, lu pada ga usaha sih! Nih gw bawa apa, liat dong.” Kataku seraya menyodorkan garpu dan gambar kepada Arrun dan Tadeus.

“Buat paan tuh gambar anak TK ama garpu?” Tanya Aruun dan Tadee.

Lalu aku jelaskan bahwa gambar anak TK itu adalah peta dari penjara tersebut dan garpu tersebut bisa digunakan untuk memecahkan ubin penjara yang kurang kokoh, lalu garpu juga bisa digunakan untuk menggali tanah penjara.

“Wah pinter banget lu DOS! Tapi semoga kita selamat.” Kata Tadee dengan tampang bodoh.

“May the force will be with you, always. Yoda said that to Obi Wan. Good luck to you guys” Kata Richardson, tahanan sebelah yang berkebangsaan Irlandia.

Sekedar Informasi untuk pembaca yang budiman, beliau adalah pemasok ganja Thailand yang berkebangsaan Irlandia. Beliau tertangkap karena menembak 2 polisi dengan Shotgun. Sebenarnya beliau adalah orang yang baik, tetapi beliau tidak mau diajak kabur bersama.

“This place make me feel like I’m in home, just like in Cork (kota Irlandia).” Katanya dengan bahasa Inggris.

“Oke goodbye sir, keep this for remembering I. if I in Indonesia. I send postcard, I hope you just fine fine ya. (gue harap lu baik-baik aja ya).” Karena aku selalu mendapatkan nilai remedial di pelajaran Inggris, jadinya kukatakan semampuku. Kuberikan jugalah koin 100 rupiah milikku sebagai jimat keberuntungan untuknya.

“Hey, fellas, If you want to escape, you have to dig to the rear entrance.” Kata Richardson dan untungnya Tadee lebih pintar dariku dan bisa menerjemahkannya.

Aku pun mulai menumbukkan garpu itu ke ubin penjara sampai 30 menit kemudian ubin tersebut pecah. Staminaku habis dan aku meminta tolong kepada Aruun untuk menggali tanahnya ke arah utara yang mengarah ada pintu belakang. Dia pun menggali ke arah utara dan akhirnya kita keluar di sebuah hutan kosong tanpa orang.

“Kita pokoknya harus balik ke Indonesia! Kita harus cari cara biar bisa balik.” Kata Tadee dengan wajah yang muram.

“Loh, itu bukannya ada banyak mobil, coba aja jelasin masalah kita. Siapa tau mereka mau bantu kita.” Kataku dengan gembira.

Seperti melihat oasis di padang gurun, kami senang sekali melihat ada kemungkinan bisa selamat.

Tetapi setelah kami jalan mendekat, ternyata ada banyak orang bersenjata. Kami curiga dan mendengar pembicaraan dari orang-orang tersebut. Kudengar samar-samar bahwa orang tersebut seperti sedang bertransaksi narkoba. Ada 2 bos besar dan setelah Kuintip ternyata 2 orang tersebut adalah teroris ternama yang telah masuk ke FBI Most Wanted.Yang pertama adalah orang negro berkebangsaan Jamaika bernama Mob Barley dan yang satunya adalah Mahong (Mafia Hongkong) dengan tubuh tambun bernama Yhow Cun Fat. Tanpa sengaja ketika sedang penasaran menguping pembicaran mereka, Aruun menginjak daun kering dan terdengar oleh mereka. Lalu Kami lari sekuat tenaga, sedangkan Mob dan Yhow berteriak,”GET THEM!!!”, sambil menunjuk ke arah kita. Mereka mengutusa anak buahnya untuk membunuh kami. Kesepuluh antek-antek itu langsung menghujani kami dengan peluru dan Aruun tertembak di bagian kakinya.

“Arrgghh, bangs*t.. kaki gue kena tembak.” Kata Aruun sambil merintih kesakitan.

“Sabar run, gue kuat gendong lu.”kata Tadee.

“Pokoknya kita musti lolos dari bajingan-bajingan itu dan kita bisa kembali ke penjara. Lalu petugas penjara akan memanggil kepolisian untuk nangkep orang-orang biadab itu.” Tambahku.

“Udah gue balik aja sambil angkat tangan, kalo ga lu bakal tambah lama gara-gara gendongin gue. Lu ga tau gue ikut obes ama si Melky (guru OR).” Katanya dengan tampang putus asa seraya berjalan ke arah penjahat itu.

“Aruunn!!!!!!” Teriakku memanggil namanya.

“Sudahlah!! Pengorbanan Aruun ga bakal sia-sia, kita harus kabur.” Kata Tadee kepadaku.

Setelah hampir sampai di penjara, kudengar suara tembakan AK 47 seperti yang sering kumainkan di game Counter-Strike.

Aku sadar , bajingan-bajingan itu pasti telah membunuh Aruun.

“Sial!! Aruun…CHOU SIAU CE!!!” Kata Tadee dengan bahasa mandarin sambil mengucurkan air matanya.

Aku pingsan sesampainya kembali di penjara dan aku berharap Tadee dapat menjelaskan semua permasalahan kepada petugas penjara.

Beberapa waktu kemudian.

Aku tersadar seperti berada di kantor polisi dan kulihat Tadee sedang bercengkrama dengan polisi bule dengan perawakan tinggi, tegap, dan atletis.

“Woi, vin! Kita udah bantuin FBI nangkep teroris Kita bakal dapet imbalan loh! Polisi Thailand juga udah minta maaf.” Kata Tadee kepadaku dengan gembira.

“Woi udah lu bilang ke bule FBI , kita mau balik ke Jakarta. Gue lagi depresi berat.”

Setelah Tadee berbasa-basi kepada FBI dan kepolisian Thailand akhirnya kami diantar dengan Limousine dan kawalan polisi ke Suvarnabhumi airport.

Kami juga diberi prioritas dan tak lama kemudian diterbangkan ke Jakarta, sekilas kulihat TV di airport seperti sedang memutar channel CNN dan aku seperti melihat mukaku dan Tadee di TV.

Kami lepas landas dari Bangkok menuju Jakarta, Di kapalpun aku memaksa diri untuk tidur sambil mendengarkan lagu Lisa Ono karena para penumpang kapal ini serasa sangat ribut sekali.

23:00 WIB, Jakarta

Aku dan Tadee sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Kerumunan wartawan dan reporter meliputku dan bertanya bagaimana caranya aku bisa membantu kepolisian Thailand dan FBI menangkap teroris dunia.

“Bukan Aku, Tapi Aruun Kumar.” Jawabku kepada mereka sambil berjalan meninggalkan para wartawan dan reporter dalam keadaan bingung.

Kehidupan berjalan indah sampai sekarang, karena pengorbanan Aruun kini aku dan Tadee hidup bahagia, kami banyak ditawarkan main film dan menjadi bintang iklan.

Aku juga tidak lupa untuk mengirim postcard untuk Richardson di penjara Sukchuvit, Bangkok. Katanya dia baik-baik saja dan dia mendapatkan teman sel baru.

Setiap minggu kusempatkan diriku dan Tadee untuk mengunjungi makam Aruun di daerah Tangerang. Tadee juga membelikan VCD kegemaran Aruun dan foto polisi yang Aruun bohongi dalam perjalanan menuju ke airport untuk Aruun sebagai tanda kenangan. Kami juga menuliskan,”Untukmu Disurga Dari: Kevin dan Tadee” Di VCD tersebut. Kami meninggalkan makam tersebut dan pulang ke rumah masing-masing.

Sampai sekarang ini kehadiran Aruun masih kurasakan saatku sedang bercengkrama dengan Tadee.

Sampai Jumpa Aruun.

Hiduplah bahagia di surga.

Minggu, 13 April 2008

My first Blog

Akhirnya dengan jadi juga blog seorang Kevin Adinata. Blog ini dibuat pada saat saya sedang mengalami kebuntuan dalam mengerjakan tugas Bahasa Inggris saya. Semoga dengan terciptanya blog ini dapat menghibur khalayak. Maafkan saya bila ada kata-kata yang tidak berkenan. Selamat membaca!