Kira-kira jam 7 pagi, saat aku sedang terlelap dalam tidurku yang nyenyak tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar,” Kevin, Kevin we love you!”. Suara itu seperti suara gadis-gadis yang meneriakan namaku. Yah memang sih, semenjak aku membantu FBI menangkap teroris dunia di
“Wow Ide yang brilian.”, kata Tadee.
“Ide si boleh, duit darimana bos?” sahut Aruun.
“Tenang aja, gw yang bayarin.” Jawabku sambil mengibas-ngibaskan 10 lembar uang 100 ribu rupiah.
“Oke deh bos, gua buking dulu hotel ama tiket pesawat Adem Air.”, kata Aruun.
“Jangan bego, Adem air sering kecelakaan. Mending lu beli tiket Air Asiak. Murah dan bagus, cakep lagi pramugarinya.” Jawab Tadee dengan muka mesum.
“Ya udah gua ga mau tau, lu buking apa aja yang penting bisa terbang. Ruun, lu yang urus deh.” Kataku yang merasa kesal karena tidak sabar.
“Oke deh gue balik dulu, ada jadwal yoga gue.” Kata Aruun.
“gue juga mau karaoke ama ikut chen sing, lu kira lu doing yang sibuk?” balas si Tadee dengan nada yang menyebalkan.
“Yauda balik deh lo pada, pusing gua denger lu ngoceh.” Akupun yang tidak sabar langsung pergi dari depan pintu kelas dan menuju rumah dengan sopir pribadiku yang mengendarai BMW mengkilap.
Sesampainya di rumah aku menanyakan hal ini ke ayahku dan beliau langsung menyetujuinya bila saja liburan tersebut digunakan untuk maksud yang tepat. Jadi aku bilang saja aku ingin mempelajari budaya
Keesokan harinya aku menanyakan tentang pembukingan tiket pesawat dan tiket hotel kepada Aruun. Aruun bilang bahwa semuanya sudah beres dan kita bertiga makan di restaurant Chinese Food terkemuka di Kemang, yaitu Chen Hau Nan. Aku sangat puas karena kali ini Tadee mentraktir kami. Ucapan terimakasihku ucapkan untuk Tadee. Keesokan harinya kira-kira jam 8 tepat, agak telat karena menurut jadwal kami akan terbang jam 8.45. Tadee menjemputku bersama Aruun dengan mobil Honda Jazz milik ayahnya Tadee. Tadeepun menancap gas hingga 120 km/jam di jalanan sampai akhirnya ditilang polisi. Jam menunjukan pukul 8.23. Aruun terpaksa harus menunjukan kemampuannya sebagai penipu kelas kakap.
“Siang pak, maaf harus saya tilang karena bapak ngelanggar batas kecepatan di daerah ini.” Dengan sopannya polisi buncit itu berbicara (polisi buncit biasa minta “uang damai”).
Aruun pun berkata dengan aksen Indianya yang membuat kita menahan tawa, “Pak, saya tuh anaknya Jendral Sugiono.”
Dengan pintarnya polisi itu menjawab, ”Pak, jangan coba nipu ya. Saya tuh udah sering ditipu begituan dan nama jendral ga ada yang kaya gitu.”
Wah tentu saja Aruun tidak habis akal dan berkata,” Maaf pak, tapi itu bukannya ayah saya Jendral Sugiono datang kesini. Orangnya ada di belakang bapak.”
Polisi itu pun menoleh ke belakang dan tertipu. Aku sempat mengambil gambar polisi itu dari belakang untuk kenang-kenangan. Lalu Tadee menginjak gas sampai pol ke bandara dengan selamat.
Kami langsung check in kapal Asiak air dan menunggu di pintu D4. 3 menit kemudian pintu dibuka dan kami berangkat ke
Akhirnya setelah sampai disana, Aku, Tadee, dan Aruun dijebloskan ke dalam sel yang sama. 315-AZ, takkan kulupakan sel itu. Kecoa dan Tikus sepertinya bersekutu untuk membuat kami tidak betah tinggal di sel tersebut, tetapi apa boleh buat. Aku terus berharap agar para polisi
Hari demi hari pun berlalu.
“Aduh uda 5 hari kita disini. Makin ga betah aja.” Kata Aruun.
“Woi goblok, lu pada ga usaha sih! Nih gw bawa apa, liat dong.” Kataku seraya menyodorkan garpu dan gambar kepada Arrun dan Tadeus.
“Buat paan tuh gambar anak TK ama garpu?” Tanya Aruun dan Tadee.
Lalu aku jelaskan bahwa gambar anak TK itu adalah peta dari penjara tersebut dan garpu tersebut bisa digunakan untuk memecahkan ubin penjara yang kurang kokoh, lalu garpu juga bisa digunakan untuk menggali tanah penjara.
“Wah pinter banget lu DOS! Tapi semoga kita selamat.” Kata Tadee dengan tampang bodoh.
“May the force will be with you, always. Yoda said that to Obi Wan. Good luck to you guys” Kata Richardson, tahanan sebelah yang berkebangsaan Irlandia.
Sekedar Informasi untuk pembaca yang budiman, beliau adalah pemasok ganja
“This place make me feel like I’m in home, just like in
“Oke goodbye sir, keep this for remembering I. if I in
“Hey, fellas, If you want to escape, you have to dig to the rear entrance.” Kata Richardson dan untungnya Tadee lebih pintar dariku dan bisa menerjemahkannya.
Aku pun mulai menumbukkan garpu itu ke ubin penjara sampai 30 menit kemudian ubin tersebut pecah. Staminaku habis dan aku meminta tolong kepada Aruun untuk menggali tanahnya ke arah utara yang mengarah ada pintu belakang. Dia pun menggali ke arah utara dan akhirnya kita keluar di sebuah hutan kosong tanpa orang.
“Kita pokoknya harus balik ke
“Loh, itu bukannya ada banyak mobil, coba aja jelasin masalah kita. Siapa tau mereka mau bantu kita.” Kataku dengan gembira.
Seperti melihat oasis di
Tetapi setelah kami jalan mendekat, ternyata ada banyak orang bersenjata. Kami curiga dan mendengar pembicaraan dari orang-orang tersebut. Kudengar samar-samar bahwa orang tersebut seperti sedang bertransaksi narkoba. Ada 2 bos besar dan setelah Kuintip ternyata 2 orang tersebut adalah teroris ternama yang telah masuk ke FBI Most Wanted.Yang pertama adalah orang negro berkebangsaan Jamaika bernama Mob Barley dan yang satunya adalah Mahong (Mafia Hongkong) dengan tubuh tambun bernama Yhow Cun Fat. Tanpa sengaja ketika sedang penasaran menguping pembicaran mereka, Aruun menginjak daun kering dan terdengar oleh mereka. Lalu Kami lari sekuat tenaga, sedangkan Mob dan Yhow berteriak,”GET THEM!!!”, sambil menunjuk ke arah kita. Mereka mengutusa anak buahnya untuk membunuh kami. Kesepuluh antek-antek itu langsung menghujani kami dengan peluru dan Aruun tertembak di bagian kakinya.
“Arrgghh, bangs*t.. kaki gue kena tembak.” Kata Aruun sambil merintih kesakitan.
“Sabar run, gue kuat gendong lu.”kata Tadee.
“Pokoknya kita musti lolos dari bajingan-bajingan itu dan kita bisa kembali ke penjara. Lalu petugas penjara akan memanggil kepolisian untuk nangkep orang-orang biadab itu.” Tambahku.
“Udah gue balik aja sambil angkat tangan, kalo ga lu bakal tambah lama gara-gara gendongin gue. Lu ga tau gue ikut obes ama si Melky (guru OR).” Katanya dengan tampang putus asa seraya berjalan ke arah penjahat itu.
“Aruunn!!!!!!” Teriakku memanggil namanya.
“Sudahlah!! Pengorbanan Aruun ga bakal sia-sia, kita harus kabur.” Kata Tadee kepadaku.
Setelah hampir sampai di penjara, kudengar suara tembakan AK 47 seperti yang sering kumainkan di game Counter-Strike.
Aku sadar , bajingan-bajingan itu pasti telah membunuh Aruun.
“Sial!! Aruun…CHOU SIAU CE!!!” Kata Tadee dengan bahasa mandarin sambil mengucurkan air matanya.
Aku pingsan sesampainya kembali di penjara dan aku berharap Tadee dapat menjelaskan semua permasalahan kepada petugas penjara.
Beberapa waktu kemudian.
Aku tersadar seperti berada di kantor polisi dan kulihat Tadee sedang bercengkrama dengan polisi bule dengan perawakan tinggi, tegap, dan atletis.
“Woi, vin! Kita udah bantuin FBI nangkep teroris Kita bakal dapet imbalan loh! Polisi
“Woi udah lu bilang ke bule FBI , kita mau balik ke
Setelah Tadee berbasa-basi kepada FBI dan kepolisian
Kami juga diberi prioritas dan tak lama kemudian diterbangkan ke Jakarta, sekilas kulihat TV di airport seperti sedang memutar channel CNN dan aku seperti melihat mukaku dan Tadee di TV.
Kami lepas landas dari
23:00 WIB,
Aku dan Tadee sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Kerumunan wartawan dan reporter meliputku dan bertanya bagaimana caranya aku bisa membantu kepolisian
“Bukan Aku, Tapi Aruun Kumar.” Jawabku kepada mereka sambil berjalan meninggalkan para wartawan dan reporter dalam keadaan bingung.
Kehidupan berjalan indah sampai sekarang, karena pengorbanan Aruun kini aku dan Tadee hidup bahagia, kami banyak ditawarkan main film dan menjadi bintang iklan.
Aku juga tidak lupa untuk mengirim postcard untuk
Setiap minggu kusempatkan diriku dan Tadee untuk mengunjungi makam Aruun di daerah Tangerang. Tadee juga membelikan VCD kegemaran Aruun dan foto polisi yang Aruun bohongi dalam perjalanan menuju ke airport untuk Aruun sebagai tanda kenangan. Kami juga menuliskan,”Untukmu Disurga Dari: Kevin dan Tadee” Di VCD tersebut. Kami meninggalkan makam tersebut dan pulang ke rumah masing-masing.
Sampai sekarang ini kehadiran Aruun masih kurasakan saatku sedang bercengkrama dengan Tadee.
Sampai Jumpa Aruun.
Hiduplah bahagia di surga.